Rohani : Berita Acara Verifikasi Faktual Wajib Dipegang Setiap Komisioner

UPOS, Pangkep– Berita Acara (BA) Verifikasi Faktual (Verfak) adalah dokumen yang semestinya dipegang oleh seluruh komisioner KPU, karena sebagai unsur pimpinan mereka semua bertanggung jawab atas apa yang dikerjakan, serta dapat diakses publik secara terbuka, jika hanya dipegang oleh satu orang maka akan sangat mungkin menimbulkan persepsi lain.

Melalui rekaman suara permohonan maaf yang dikirim terbuka kepada publik, Senin 2 Januari 2023, menyusul pemberitaan yang marak tentang dugaan penganiayaan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pangkep, Rohani menegaskan sikapnya terkait adanya kecurigaan perubahan data Verifikasi Faktual (Verfak), yang menurutnya dapat berdampak buruk bagi citra KPU.

Rekaman suara Rohani berisi penyampaian (klarifikasi) kronologis peristiwa, dan permohonan maaf terbukanya berdurasi 9.47 menit lebih itu menurutnya dibuat untuk memberikan perimbangan pemberitaan yang mengesankan dirinya telah melakukan penganiayaan. Disebutnya tindakan itu adalah upaya untuk mengimbangi sikap emosional Aminah, yang lebih dahulu bersuara keras dan memukul meja serta memecahkan vas bunga. Sikap itu dinilai Rohani sebagai intimidasi dan upaya mengelak dari rekan komisionernya yang diketahui memegang data dasar Verfak asli (soft file).

Sekalipun telah menyerahkan bukti fisik (hasil print), namun Rohani menilai tidak sepantasnya Aminah bersikukuh menahan data asli, juga selalu mengelak menyerahkannya kepada komisioner lainnya. Bahkan kepada Ketua KPU Pangkep, Burhan yang terus mendesak agar sof file Berita Acara (BA) dibagikan segera kepada semua komisioner. Sikap Aminah yang tidak menunjukkan indikasi kerjasama selaku unsur pimpinan KPU itulah yang dikatakan Rohani sebagai pelanggaran, bahkan menimbulkan perdebatan dalam rapat pleno rutin.

Rohani menyebutkan bahwa sekalipun agak terlambat bergabung dalam rapat, tetapi informasi dari staf KPU menyebutkan bahwa Ketua KPU Pangkep, mengeluhkan soal sikap Aminah yang tidak merespon permintaan BA Verfak, dan tidak bisanya Ketua KPU mengakses data BA, yang nota bene adalah penanggungjawab utama KPU. Awalnya Rohani masuk ruangan dan duduk diam di samping Saiful Mujib dan Burhan, saat masuk dirinya sudah melihat raut wajah rekan komisioner lainnya tegang.

Rohani dalam kalimatnya juga mempertahankan mengapa dokumen BA Verfak itu sulit sekali diperoleh, padahal dalam kapasitasnya semua komisioner adalah pimpinan ujarnya mempertanyakan. Seharusnya tidak perlu ada jarak juga sangat tidak beralasan bahwa Aminah sudah menyerahkan bukti fisik kepada komisioner lainnya, sebab Rohani mengaku dirinya tak pernah diberikan, justru dia berupaya mendapatkan dari pencariannya di staf divisi teknis yang dibawahi Aminah.

“Sebelum- sebelumnya saat meminta data BA Verfak saya merasa dipersulit, “ungkap Rohani pada saat diskusi di rapat Aminah mengeluarkan suara keras, seakan-akan ingin menguasai rapat pleno dengan mengatakan “sudah selesai itu masalah scan BA.” Dengan alasan saat diminta Aminah tidak membawa laptop. Menurut Rohani, tidak seharusnya Aminah yang menyerahkan, bisa menginstruksikan kepada Admin Sipol, juga Kepala Sub Bagian (Kasubag) sehingga alasan tidak bawa laptop, bahkan mengeluarkan kalimat yang menyinggung perasaan Rohani.

“Hai dengar saya, kau itu kurang ajar sekali Nani, “ujar Aminah, kepada Rohani sebelum peristiwa pelemparan vas bunga terjadi. Kalimat kurang ajar, diikuti pemukulan meja dan memecahkan vas bunga, itulah yang membuat Rohani bereaksi. Saya sempat mengingatkan kepada Aminah, agar bicara saja dan tidak perlu pukul meja, ujar Rohani.

Aminah lebih dulu mengambil botol air mineral, disusul dengan keras memukul meja memakai vas bunga maka pecahlah vas bunga itu ujar Rohani. Kaget diperlakukan seperti itu Rohani menarik vas bunga di depannya dan melemparkannya ke arah Aminah, dan mengenai pelipisnya. Tetapi Rohani mengakui dalam rekaman itu tidak ada maksud melukai Aminah, tidak pernah dibayangkan bahwa saat lemparan itu Aminah berdiri dan akhirnya vas bunga mengenai pelipisnya.

Rohani mengakui bahwa dirinya mengetahui bahwa melukai orang lain itu secara hukum akan berdampak pidana. Setelah dikenai lemparan, Aminah berupaya menyerang Rohani tetapi sudah dilerai oleh Ketua KPU dan komisioner lainnya. Sembari meninggalkan ruangan Aminah mengancam Rohani untuk dilaporkan ke polisi. Berbekal visum dari dokter Aminah resmi melaporkan kawan komisionernya hari itu juga.

Polisi segera tiba beberapa menit setelah peristiwa dan memanggil Rohani. Karena lengannya juga terluka, Rohani akhirnya meminta visum dokter dan dalam proses mediasi oleh internal KPU itulah kedua komisioner melanjutkan proses hukum ke polisi dengan upaya saling lapor. Rekaman yang dibuatnya itu ditujukan agar wartawan dan media yang memberitakan bisa melakukan konfirmasi dan perimbangan pemberitaan terkait peristiwa yang terjadi dalam kantor KPU Pangkep itu.(*)

Pos terkait