KTT PT PUL Keluarkan Juga Hasil Investigasinya Terkait Bajir Lumpur , BPBD Lutim Fokus Saja Ke Inti Masalahnya

0 Komentar

UPOS, Luwu Timur – Setelah Dinas Lingkungan Hidup Luwu Timur Mengeluarkan Hasil Investigasinya terkait banjir Lumpur dan krikil yang terjadi di Jalan Trans Sulawesi, Desa Ussu Kec Malili , beberapa waktu lalu kini giliran Kepala Teknik Tambang PT Prima Utama Lestari ( PUL ) Muhammad Ilham juga mengeluarkan hasil Investigasinya Dan sudah pasti hasilnya berbeda.

Dalam rilis yang disampaikan, Kamis (16/04/2020 ) tentang Laporan Hasil Investigasinya menerangkan, pada hari Sabtu (11/04/2020 ) sekitar pukul 17.30 Wita, di Dusun Saluciu Desa Ussu Kecamatan Malili, terjadi luapan air yang naik kearah jalan Trans lintas Provinsi tepatnya disamping SPBU Saluciu.

Air tersebut membawa material lumpur yang didominasi kerikil mengakibatkan tertinggalnya di aspal. Dugaan sementara yaitu derasnya air hujan yang tidak merata yang mana didaerah Malili dan Ussu tidak cukup deras akan tetapi untuk daerah pegunungan tepatnya Moroangin hujan tersebut sangat besar. Sehingga air yang turun ke area jalan tersesebut sangat besar.

Untuk Area PT PUL, masih dalam keadaan aman termasuk Setlinpond yang telah dibuat untuk mengatisivasi hujan tersebut.Disamping itu pula diluar aktivitas bukaan tambang yang dilakukan oleh PT PUL, ada aktivitas lain sampai saat ini masih berjalan yaitu penebangan kayu yang dapat mengakibatkan kurangnya daya tahan air yang diakibatkan pembalakan liar.

Saat ini PT PUL mulai bulan Januari sampai saat ini tidak melakukan aktivitas penambangan kecuali pembenahan lingkungan. Bahkan surat untuk memberhentikan sementara waktu aktivitas kegiatan di PT PUL sudah masuk kedinas ESDM Prov.Sulawesi Selatan.

Dampak yang ditimbulkan , disebutkan . Naiknya air lumpur yang didominasi material kerikil kearah aspal yang berada Pertamina Saluciu. Air yang melewati Aspal jalan trans Sulawesi berwarna kemerahan. Air yang keluar dari Outlet sedimenpond PT PUL melewati paritan alami yang ada sebelum dilakukan kegiatan penambangan. Aliran paritan tersebut yang dilalui air mengakibatkan tergerusnya material -material tanah yang berada disamping kiri kanan akibat air yang cukup deras tersebut. Material yang dilalui oleh air tersebut mengakibatkan naik kejalan trans Sulawesi.

Kesimpulannya, PT PUL tetap melakukan Penanganan Lingkungan, Kontrol Lingkungan di area PIT yang pernah dilakukan penambangan sebelum tahun 2020 untuk mengantisivasi terjadinya luapan air hujan yang keluar dari outlet pond tersebut. Dan berdasarkan hasil pantauan pada hari sabtu 11 April 2020 sampai Hari Minggu 12 April 2020, Setelah selesai hujan di area sedimen pond PT PUL masih dalam keadaan aman dan kondusive. Sehingga untuk area PT PUL di sedimenpond masih tetap terjaga.

dan tidak ada terjadi longsoran akibat dari curah hujan yang tinggi diarea bukaan tambang PT PUL.Dan bisa dipastikan air yang keluar dari Outlet PT PUL merupakan air yang tidak tercampur lumpur.

Ternyata dampak penambangan PT PUL ini juga menjadi konsentrasi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Luwu Timur, Muh.Zabur juga . Menurut Zabur, Banjir Lumpur dan krikil ini bukan baru pertama kali terjadi. Dalam catatannya sudah dua kali jalan Trans Sulawesi terkena dampaknya.

Zabur juga mengakui, sudah pernah masuk meninjau lokasi penambangan PT PUL. Kesimpulannya tata kelola tambang yang tidak baik lebih tepatnya terjadi gagal Teknologi. Dari sudut Pandang Bencana, Aktivitas penambangan yang dilakukan PT PUL diatas SPBU Saluciu tersebut adalah ancaman bencana besar yang akan menimpa Luwu Timur jika tidak segera ditangani dengan baik dan benar.

Limpasan air yang terjadi beberapa kali, itu sudah merupakan peringatan dini buat warga Luwu Timur, Jika lingkungan tidak segera dibenahi, pembuatan setlinpond yang tidak sesuai prosedur, dikhawatirkan akan terjadi kejenuhan dibagian atas sehingga air terus meresap kedalam tanah yang pada akhirnya terjadi tanah bergerak , jika itu terjadi jalan Trans Sulawesi akan terputus syukur sekali jika tidak ada korban jiwa.

” Jangankan untuk berbicara bagaimana kajian teknisnya, melihat posisi lokasi yang keruk itu saja sangat tidak layak untuk dilakukan penambangan, karena sangat terjal kemiringannya , Itu simpulan saya ” Ungkap Zabur.

Untuk itu Zabur meminta Dinas Teknis meninjau kembali Izin Lingkungannya, jika tidak sesuai dengan apa yang ada dalam dokumen cabut saja izin lingkungannya. ” Soal mereka beralasan ada aktivitas pembalakan liar itu urusan mereka membuat pembenaran, yang jelas kita fokus dulu kedokumen amdalnya apa sudah dilaksanakan dengan baik atau belum. Karena banjir itu adalah dampak yang ditimbulkan, inti masalahnya yang kita kejar sekarang. ” Tutup Zabur . ( UjungpandangPos/*** )

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment