Hadiri Isra Mi’raj, Bupati Lutim Bilang Begini

oleh

UPOS, Luwu Timur– Bupati Luwu Timur, Muhammad Thorig Husler mengatakan Isra Mi’raj adalah proses lahirnya perintah Shalat Lima waktu bagi umat Islam yang dibebankan kepada Nabi Muhammad untuk disyiarkan kepada umatnya.
Olehnya itu, umat Islam wajib melaksanakan Shalat Lima waktu.

Demikian Kata Husler saat menghadiri acara Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1439 H di Mesjid Nurul Yaqin, Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Sabtu (14/04/2018).

“Shalat bukanlah rutinitas fisik dalam menunaikan ibadah lima waktu. Shalat juga jangan dimaknai hanya sebatas menggugurkan kewajiban .
Kenapa Shalat sangat penting bagi umat Islam, karena Hakekat Shalat adalah tuntunan kita kepada Allah dan tuntunan dalam mengarungi kehidupan dunia, “kata Husler.

“Karena Shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar, ini adalah pemaknaan untuk mengarungi kehidupan sehari-hari. Dengan mendekatkan diri dengan Allah, lewat Shalat kita jadi takut berbuat keji dan mungkar, baik kepada sesama manusia, termasuk mahluk hidup lainnya, “tambah Husler.

Untuk itu, Husler mengajak kepada seluruh masyarakat Kabupaten Luwu Timur untuk menegakkan ibadah Shalat wajib 5 waktu, sebagaimana diperintahkan melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Sehingga hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya dapat diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, agar dapat tercipta kehidupan pribadi, keluarga, serta Bangsa dan Negara yang lebih baik.

Lanjut Husler, untuk menciptakan tatanan kehidupan bermasyarakat yang baik, Islam mengajar tata cara berhubungan dengan Allah dan berhubungan dengan Manusia. Ini yang diwujudkan dalam semangat tenggang rasa. Saling menghormati dan saling menghargai.

“Saya sampaikan karena ini penting untuk mempertahankan keharmonisan antar umat beragama yang ada di Luwu Timur, “tutupnya.

Hadir dalam peringatan Isra Mi’raj ini, Kepala SKPD Pemkab Luwu Timur, Camat Mangkutana, Awaluddin Anwar, Kapolsek Mangkutana, TP-PKK Kabupaten Luwu Timur, sejumlah Kepala Desa, tokoh agama, Majelis Ta’lim, serta masyarakat Mangkutana.(Momo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *