Soal Adanya Pembekuan SK Mokole Nuha, Ini Sikap Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu

0 Komentar

UPOS, Baebunta– Terkait Adanya pembekuan SK Mokole Nuha yang mengatasnamakan pilar Kedatuan Luwu serta menyatakan selama ini terjadi kerancuan tatanan adat, membuat Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu tidak tinggal diam dan melakukan rapat pada 6 September 2020 di Baebunta, Luwu Utara.

Rapat dewan adat tersebut dipimpin Opu Patunru Kedatuan Luwu, Andi Muh Nur Palullu Kaddiraja Opu To Gau dengan mengambil sikap yakni Mokole Nuha, Andi Baso AM Opu To LA Mattulia adalah Mokole Nuha yang sah dikukuhkan oleh Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu yang disaksikan langsung Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau. Dimana juga dihadiri Bupati Luwu Timur, PT Vale, serta seluruh perangkat adat, dan para anak suku kemokolean Nuha yang jumlahnya mencapai ribuan orang.

Rapat Dewan Adat 12 ini juga dihadiri pada Ana’Tellue yakni Makole Baebunta, Andi Masita Kampasu Opu Daeng Tawelong, Ma’dika Bua, Andi Syaifuddin Kaddiraja Opu To Sattiaraja, dan Ma’dika Ponrang, Andi Sana Kira Opu To Bau.

Makole Baebunta, Andi Masita Kampasu Opu DaengTawelong dalam rapat tersebut mengatakan bahwa pada kegiatan yang dilakukan oknum yang mengatasnamakan pilar Kedatuan Luwu, terdapat dua orang yang mengaku merupakan perwakilan dari Makole Baebunta, dan menurutnya itu tidak benar.

”Keduanya bukanlah perangkat adat dari Kemakolean Baebunta serta keduanya tidak ada komunikasi ke saya. Sehingga jika keduanya mengambil langkah atau keputusan tanpa sepengetahuan saya dan perangkat adat kemakolean Baebunta itu tidak sah, ”kata Andi Masita.

Selain itu, Andi Masita juga menjelaskan bahwa tugas dan fungsi dari Pancai yakni hanya bertugas atas segala prosesi adat di wilayahnya sendiri, sehingga Pancai tidak punya hak sama sekali untuk mengurusi Mokole Nuha apalagi ingin membekukan SK pengangkatan seorang Mokole Nuha.

Senada dengan itu, Ma’dika Ponrang, Andi Sana Kira Opu To Bau mengatakan bahwa selama ini proses pengangkatan pemangku adat di bawah Kedatuan Luwu telah dilakukan dengan benar. “Juga melalui prosedur serta tatanan adat yang berlaku, “katanya.

Ma’dika Bua, Andi Syaifuddin Kaddiraja Opu To Sattiaraja mengatakan Kedatuan Luwu tidak pernah mengenal adanya pilar Kedatuan Luwu sehingga jika ada mengatasnamakan Kedatuan Luwu
itu tidak sah.

Setelah melakukan rapat di Baebunta, Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu dibawah pimpinan Makole
Baebunta, Andi Masita Kampasu Opu Daeng Tawelong melakukan silaturahim dengan Pancai Pao, Daeng Magguna di Pao Malangke guna klarifikasi adanya sikap yang dilakukan oleh Abidin Arif To
Parukka yang ikut mengurusi urusan pemangku adat di luar wilayah Pao.

Melalui silaturahim tersebut, Pancai Pao, Daeng Magguna menyatakan mandat yang diberikan kepada Abidin Arif To Parukka tersebut hanya bertugas sebagai penghubung di dalam wilayah
Kedatuan Luwu, namun jika terjadi kesalahan maka mandat itu tidak berlaku lagi atau batal dengan sendirinya.

Bukan cuma itu, terdapat hal lain yang dibicarakan dalam rapat kali ini, yakni pada 30 Agustus 2020 lalu tentang adanya pertemuan yang dilakukan pemerhati Adat Budaya Luwu di Kediaman A Baso Ilyas Opu Lanre, di Jln. Jenderal Sudirman Palopo yang menyatakan mengakhiri dualisme Datu Luwu serta membentuk poros tengah, dan membentuk tim 5 yang bertugas membentuk dewan adat 12 sementara. Dewan adat 12 Kedatuan Luwu menyatakan tegas Datu Luwu XL adalah H Andi Maradang Machkulau
Opu To Bau yang telah dipilih secara dekmoratis dan aklamasi oleh seluruh Dewan Adat 12 menggantikan Datu Luwu XXXIX, Andi Luwu Opu Daengna Patiware yang mangkat.

Oleh karena itu, Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu menghimbau kepada seluruh masyarakat Adat Luwu termasuk pemerintah daerah se Tana Luwu agar tidak mudah terprovokasi oleh adanya gerakan- gerakan yang dilakukan oknum yang bukan berasal dari Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu apalagi yang
berbau provokatif bahkan fitna yang menyatakan ada oknum Dewan alAdat 12 yang membawa kepentingan pribadi atau kelompok, karena apa yang dilakukan selama ini semata-mata hanyalah
pengabdian demi lestarinya tatanan adat dan budaya Luwu.

Penulis : Rls
Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment