Workshop Hari Tari Dunia, Hesti : Memegang Akar Tarian Pa’gellu Tua Sebagai Identitas Toraja

Workshop Tari Pa’Gellu Tua, digelar di Aula Kodim 1414 Tana Toraja, menghadirkan narasumber yaitu Hesti Yusniati Palalangan dan Natalia Bendon. Rabu (27/4/2022). (Ist)

UPOS, Toraja Utara – Rangkaian event perayaan Hari Tari Dunia (HTD) 2022, diisi kegiatan workshop bagi para peserta yang terdiri dari penari, pelaku seni dan budaya, mahasiswa serta pemuda Toraja.

Workshop Tari Pa’Gellu Tua, digelar di Aula Kodim 1414 Tana Toraja, Rabu (27/4/2022), dengan menghadirkan narasumber yaitu Hesti Yusniati Palalangan dan Natalia Bendon.

Sedang narasumber Workshop Musik Iringan Tari yang dilaksanakan di Museum Pongtiku Rantepao, disi Jamal Gentayangan dan Nikolas Amba.

Diketahui, Panitia HTD 2022 di Toraja Utara sengaja mengelar Workshop untuk memberi pemahaman luas kepada masyarakat terkait tari, sekaligus memperingati hari tari se dunia.

Terutama yang penting diketahui, yaitu Tari Pa’Gellu Tua yang lahir atau berasal dari Toraja, dimana tari tersebut telah jarang diperagakan penari dengan berkembangnya masa modern ini.

Instruktur tari asal Jakarta yang juga putri Toraja, Hesti Yusniati Palalangan setelah membawakan materi menjelaskan, banyak tari kreasi yang perkembangannya menjadi ringan, sehingga banyak diluar sana tarian telah berbeda dari aslinya.

“Toraja ini penuh filosofi, setiap produk kearifan lokal itu bercerita baik ukiran, tarian, tekstil dan lainnya, apalagi budaya kita itu tinggi dan ada artinya,” ungkapnya.

Dijelaskan Hesti, terjadi perubahan pada tarian Pa’ Gellu Tua Toraja, karena saat pergerakan tarian menjadi ringan maka dianggap menjadi tarian hiburan, sehingga berbeda dari keasliannya.

Menurutnya, penari di Toraja baik di seluruh Indonesia boleh saja menyenangkan para turis, tapi harus memegang akar dari tarian Pa’gellu Tua sebagai indetitas Toraja.

“Kalau terus keasikan menggarap dan ditinggalkan, tanpa dipelihara maka hilang identitasnya, karena semua gerakan tari Pa’gellu Tua bermacam-macam itu ada artinya,” terang Hesti.

Hesti berharap, lewat workshop tari dan musik iringan tari di event HTD 2022 Toraja Utara, pelaku tarian dapat melihat ke belakang saat diciptakannya tarian pa’gellu dan kuatkan niat agar aman dan ngerti arah arti gerakannya.

“Jangan hanya menari dan goyang saja, kalau didalami benar Pa’gellu Tua maka syarat dan filosofi diakui dan dianut masyarakat Toraja,” pungkasnya.

Sejak tahun 1998 silam, Hesti menekuni tarian Pa’gellu Tua dan diundang di berbagai kegiatan, sehingga memahami filosofi tarian tersebut. (*)

Pos terkait