Menyoal Bissu yang Dianggap Peninggalan Masa Lalu

0 Komentar

UPOS, Pangkep – Keluarga Mahasiswa Sosiologi (Kemasos) FISIP Unhas menggelar webinar, dengan tema Gender dan Sexuality “Bissu Bukan Sekadar Waria Biasa dalam Perspektif Sosiologi”, pada Kamis (9/7/2020) malam.

Asrul Nur Iman S.Sos M.I Kom dan Feby Triadi S.Pd MA didaulat sebagai pembicara yang merupakan Peneliti Bissu di Kabupaten Bone dan Komunitas Bissu Segeri di Pangkep.

Asrul memaparkan, Bissu merupakan entitas gender yang unik dan sekaligus berbeda dari 4 peran gender yang ada.

“Bissu adalah individu yang unik sebab, ia punya posisi sakral yang menunjukkan karakteristik Ke-Tuhanan, ia adalah penyambung lidah antara Tuhan dan Manusia,” ujarnya.

Sebelumnya, kandidat doktor Universitas Padjajaran itu dalam materinya juga menjelaskan terkait lima jenis kelamin yang menjadikan Sulawesi-Selatan atau komunitas Bugis, khususnya kelompok Bissu menjadi unik.

“Di Sulawesi-Selatan ada lima peran gender, Urane (laki-laki) Makkunrai (Perempuan) Calabai, Calalai dan Bissu. Bissu ini unik, sebab punya peran sakral pada banyak ritual di kebudayaan adat Bugis,” ujarnya.

Sementara Febby Triadi dalam pemaparan materinya mengungkapkan bahwa perbincangan mengenai Bissu selama ini, selalu diidentikkan dengan persoalan gender dan seksualitas semata.

Padahal, menurutnya Bissu bisa dilihat atau dipandang dari berbagai sudut dimensi yang menarik lainnya. Seperti misalnya dari sisi relasi kuasa. Ia memberi contoh misalnya tentang konsep Attoriolong dalam keyakinan komunitas Bissu.

“Attoriolong ini adalah sebuah kepercayaan yang dipegang dan dipercayai oleh para Bissu yang juga memiliki sembilan pranata yaitu kehidupan dunia, akhirat, sakit, kematian, para dewa, mahluk halus, leluhur, keramat, dan sakit jimat serta menyembah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kuasa seorang Bissu melingkupi Arajang, Mantra, Tari, Dewan Adat dan juga Pemuka Agama.

Menurut Febby, persoalan mengenai Bissu di Sulsel saat ini dianggapnya berhadapan dengan dua masalah mendasar sekaligus.

“Disatu sisi Bissu sering diacuhkan oleh orang lokal sebab dipandang sebagai sisa-sisa peninggalan masa lalu, sementara disisi yang lain mereka justru dilihat menarik oleh asing,” paparnya. (*)

Penulis : Sulaeman
Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment