Covid-19 Paksa Disrupsi Pendidikan ke Digitalisasi

0 Komentar

Oleh: Subuhan, S.Pd. M.Pd (Praktisi Pendidikan)

Mewabahnya pandemi Covid-19 sejak awal Februari 2020 lalu, telah menelan korban jutaan orang seluruh dunia. Pandemi tersebut tak hanya berdampak dunia kesehatan saja. Tapi telah berpengaruh multi efek segala lini dan sendi kehidupan. Termasuk, hal-hal kecilpun, misalnya jabat tangan. Telah berimbas pada sektor ekonomi dan bisnis. Coorporat banyak ambruk, PHK karyawan. Tak terkecuali dalam bidang sosial secara umum, bahkan berimbas pada wilayah politik.

Dalam bidang pendidikan telah memaksa para policynya, untuk bergerak cepat mengantisipasi keadaan. Imabas-imbas itu bisa kita lihat, misalanya perubahan kurikulum, jadwal pembelajaran, strategi dan model pembelajaran, pelaksanaan ujian, dll.
Guru, sebagai sebagai ujung tombak pendidikan langsung merasakan dampak pandemi tersebut. Para guru dipaksa dan terpaksa melakukan Work From Home (WFH). Artinya, meski harus tinggal di rumah harus tetap mengajar. Para guru harus memanfaatkan teknologi komunikasi informasi agar bisa berkomunikasi dengan para siswa. Pembelajaran yang selama ini dengan tatap muka langsung, harus beralih ke dunia maya.

Pembelajaran beralih dari dunia nyata ke dunia dalam jaringan (Daring). Masalahnya, kondisi tersebut sebagian guru, ortu siswa dan para siswa tidak terbiasa. Semua masih gagap dan tergagap menggunakan sistem Learning Manjemen System, pembelajaran jarak jauh belum biasa.

Keadaan disrupsi dalam bidang pendidikan ini, telah memaksa para guru, siswa, orang tua dan masyarakat luas harus melek menggunakan teknologi dan informasi.

Mengantisipasi atau setidaknya mengikuti perubahan dari system dan cara lama kepada cara baru atau bisa disebut disrupsi dalam pendidikan ini maka setidaknya ada beberapa yang dilakukan sebagai berikut:

Menerima Perubahan

Salah satu sifat dari manusia modern adalah kemauan berubah dan menerima hal-hal lama kepada cara baru. Maka mau-tak mau para guru harus mengetahui cara Learning Manajemen System (LMS). Walau perangkat LMS telah banyak namun belum menjadi sesuatu habbit. Banyak aplikasi versi android yang bisa mendukung LMS. Misalnya aplikasi WA bisa untuk kelas kecil. Ada Zoom, Webex Met, Google Met, Schology, dll. Perangkat media sosial dan banyak lagi perangkat lainnya yang tersedia. Yang penting harus ada sikap menerima perubahan adalah pembelajaran maya beralih ke model pembelajaran Daring atau maya.
Peningkatan Kualitas
Sejak kelahiran bangsa Indonesia ini, profesi guru termasuk dalam salah satu kelompok intelektual, masyarakat jangan meragukan kualitas guru. Buktinya, meski wabah Copid-19 datang tiba-tiba dan guru dipaksa mengajar di rumah para guru siap melakukannya. Meski ada kegagapan karena prosesnya mendadak. Untuk itu para guru harus tetap meningkatkan kualitasnya khususnya untuk tetap up date perkembangan terknologi informasi dan komunikasi.

Melakukan inovasi

Situasi Covid-19 ini pula telah memaksa kita untuk berinovasi, para guru dalam mengembangkan dirinya menambah ilmu, dan keterampilan khususnya dalam teknologi komunikasi dan informasi. Selama masa Covid-19 ini para guru aktif melakukan diklat-diklat virtual baik yang diadakan pemerintah maupun organisasi guru. Kian majunya teknologi infomasi dan komunikasi akan memudahkan untuk berinovasi dalam pembelajaran. Guru harus selalu berinovasi dalam pembelajaran masa Covid-19 ini.

Pelaku Disrupsi

Tugas keseharian guru sebenarnya adalah agent of disruptions itu sendiri yakni menanamkan ilmu, sikap dan keterampilan untuk masa depan siswa. Bukankah para guru selama ini telah mengajar siswanya dari tidak menjadi tahu. Dari tidak terampil dilatih jadi terampil. Para siswa juga dianjurkan untuk selalu bersikap baik. Juga sebelum menjadi guru, juga telah dididik dan belajar psikologi anak yang bisa diajarkan untuk mengantisipasi agar para siswa tidak stres.

Era disrupsi dalam bidang ini kita harus memahaminya sebagai sebuah hal yang wajar. Ibarat sedang berjalan ada sebuah parit, maka kita harus melompatinya. Sebuah lompatan dimana pembelajaran sebelumnya masih berbasis manual ke pembelajaran berbasis digital.

Covid-19 telah memaksa para pemangku kebijakan dalam bidang pendidikan, termasuk para guru, siswa, orang tua dan masayakat untuk meninggalkan pembelajaran lama ke pembelajaran digital, termasuk arsip pendukung. (###)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment