BBVet Maros Gelar Rakor Penyakit Hewan Menular

oleh

UPOS, Makassar– Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros menggelar Rapat koordinasi Penyakit hewan menular dan Laboratorium Se-wilayah kerja tahun 2020 di Hotel Swiss-belHotel Makassar, 24 Februari 2020.

Kegiatan yang berlangsung di Ballroom kayangan swiss-belhotel ini, akan berlangsung selam tiga hari, kepala Balai Besar Veteriner Maros Risman Mangidi S.Sos pada paparannya menyampaikan, Kegiatan rapat koordinasi (rakor) ini diselenggarakan setiap tahun bersama 10 Dinas Provinsi sampai ke tingkat kabupaten dalam rangka uji coba mensingkronkan beberapa program-program, baik di program kementerian pertanian maupun program di masing-masing daerah terkait masalah kesehatan hewan.

Risman juga mengatakan berkoordinasi bersama teman-teman karantina. Bahkan yang hadir pada kegiatan ini bukan hanya teman-teman dari dinas, tapi hadir juga dari teman-teman karantina di wilayah, khususnya Indonesia Timur.

Lanjutnya, Kami semua undang teman-teman karantina karena ini ada juga sangkut pautnya, terkait masalah lalulintas ternak. yang selanjutnya lagi dalam rakor ini kami menghadirkan pakar-pakar kesehatan hewan Indonesia, yang boleh dikatakan sangat handal dan sudah banyak mengawal khususnya di wilayah kerja kami dalam hal pembebasan penyakit hewan.

Risman juga menyampaikan Peserta yang hadir kurang lebih 200 orang pada kegiatan rakor ini, ia juga menyampaikan kepada wagub sulsel bahwa rakor ini sebagai pembuka awal beberapa rapat yang kami akan laksanakan 5 hari ini, yaitu “selain rakor ini selama 2 hari, insyaallah akan dilanjutkan dengan rapat pembebasan, yang akan dihadiri oleh teman-teman terkait masalah pembebasan di wilayahnya, termasuk juga ada rapat ke tiga yang lanjutanya terkait dengan masalah pembebasan rabies khususnya di wilayah Sulsel yang dimana Kabupaten Pinrang itu menjadi projek dalam rencana pembebasan rabies tersebut. Dan kebetulan kami bekerjasama dengan PDHI dari pihak Unhas khususnya di fakultas kedokteran kesehatan hewan.ungkap Risman

Lanjut, pada paparannya Risman menjelaskan, Pelayanan kesehatan hewan merupakan salah satu unsur penting dalam peningkatan produktivitas dan swasembada ternak di Indonesia.

Penyakit hewan strategis adalah salah satu unsur penghambat peningkatan produktivitas dan swasembada ternak di Indonesia. Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menetapkan langkah teknis pelayanan kesehatan hewan dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis yang tertuang dalam Road Map Penyakit Hewan Strategis yaitu Rabies, Avian Influenza, Brucellosis, Anthraks, dan Classical Swine Fever. Penyakit Hewan Menular Strategis Prioritas merupakan penyakit hewan menular strategis yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi, keresahan masyarakat dan atau zoonosis, serta menimbulkan kematian hewan yang tinggi.Selain itu penyakit Afican Swine Fever (ASF) telah terdeteksi masuk ke Indonesia, halter sebut perlu diwaspadai agar tidak menyebar khususnya wilayah Indonesia Timur.

Penyakit hewan menular strategis prioritas berdasarkan hasil diagnosa Balai Besar Veteriner Maros hamper menyerang di seluruh propinsi wilayah kerja veteriner Maros dengan tingkat kejadian yang berbeda beda.

Balai Besar Veteriner Maros mengacu pada roadmap penyakit hewan menular strategis prioritas telah melakukan langkah teknis tahapan pengendalian dan pemberantasan menuju pembebasan PHMS, antara lain yaitu melakukan surveillans menuju pembebasan dengan melakukan sinergitas tindakan dengan Dinas yang membidangi fungsi kesehatan tingkat propinsi dan Kabupaten / kota dan Karantina Pertanian.

Pencapaian jangka panjang dalam program pemberantasan PHMS di Indonesia adalah Indonesia Bebas Avian Influenza di Tahun 2020, Bebas terhadap brucellosis 2025, bebas terhadap rabies tahu 2020, dan bebas terhadap Classical Swine Fever tahun 2020.

Salah satu bentuk nyata keluaran sinergitas dan langkah teknis pengendalian dan pemberantasan PHMS antar stakeholder di Wilayah Kerja Balai Besar Veteriner Maros adalah terbebasnya wilayah Maluku Utara (tahun 2015) , Maluku (2016), Papua (2017) terhadap penyakit AIdan Papua (2018), beberapa pulau di Kabupaten kepulauan sitaro (2018) terhadap Rabies .

Langkah kedepan adalah pencapaian status bebas rabies di Pulau Sitaro, Kabupaten Kepulauan Morotai serta bebas brucellosis di Selayar, Pulau Muna dan Biak. Pengendalian penyakit hewan menular strategis perlu adanya koordinasi dengan lintas sektor dari berbagai disiplin ilmu. Melihat keberhasilan maupun tahapan yang telah dicapai tersebut diatas, maka rapat koordinasi ini diharapkan dapat membuahkan langkah-langkah terpadu dalam memajukan kebijakan program peternakan melalui upaya pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis.

Tema dalam Rapat Koordinasi Penyakit Hewan Menular dan Laboratorium Sewilayah Kerja Balai Besar Veteriner Maros tahun 2020 ini adalah “Strategi Pengendalian Penyakit Hewan Menular Dalam Mendukung Kesehatan Semesta dan Kostratani”.

Maksud tujuan kegiatan ini adalah Saling tukar informasi actual tentang kegiatan peningkatan pelayanan kesehatan hewan dan penanggulangan penyakit hewan menular, perkembangan pengendalian dan pengendalian penyakit hewan menular strategis (PHMS) .
Sinkronisasi pelaksanaan program pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis serta peningkatan peran laboratorium di wilayah kerja BBV Maros tahun 2020.
Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan program pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis.

Evaluasi kegiatan program pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis serta laboratorium tahun 2019 dan rencana pelaksanaan tahun 2020. Menyamakan persepsi seluruh stake holder terkait dalam merumuskan dan melaksanakan program pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan memular di wilayah kerja BBVet Maros. Meningkatkan peran laboratorium kesehatan hewan dalam pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis.

Pada kesempatan yang sama Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman S.T memaparkan sekaligus membuka kegiatan Rakor wilayah kerja BBVet Maros tahun 2020 mengatakan, menagih janji bahwa kementerian pertanian akan menyiapkan beberapa fasilitas untuk jeroan sistem Rumah Potong Hewan (RPH).

Lanjut, Ia juga meminta agar kementerian pertanian meninjau langsung RPH yang sudah selesai dan yang belum selesai.

ia juga berharap sinergitas dengan adanya rakor ini. Akan ada masukan dengan perencanaan kita untuk Sulsel, termasuk di bidang peternakan maupun dibidang masalah standarisasi untuk rumah potong hewan, itu yang paling penting.ungkap Andi Sudirman

Hadir pada kegiatan ini, Gub sulsel, diwakili wagub sulsel, Dirjen PKH Kementan RI diwakili kasubdit P3H, Dirkeswan Ditjen PKH Kementan RI, Drh. Arif wicaksono, Kepala UPT Lingkup Badan Karantina Pertanian di Wilker BBVet Maros. Kadis yang membidangi fungsi Peternakan & Kesehatan di Provinsi wilker bbvet maros, dan Kadis yang membidangi fungsi PKH di kabupaten wilker bbvet maros.(Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *